ad

Jakartahotnews.com – Bagi warga Jakarta kemacetan yang biasa terjadi di Jl Trunojoyo, Kebayoranbaru, Jakarta Selatan, mungkin swasana yang sangat tidak menyenangkan. Kalau bisasanya anda menghindar dari kawasan tersebut, cobalah kunjungi mulai  Senin (12/3) mendatang, kemacatan dikawasan tersebut mungkin akan berkurang karena  underpass di jalan tersebut yang merupakan bagian dari pembangunan Jalan Layang Non Tol (JLNT) Pangeran Antasari-Blok M sudah mulai dioperasikan. Namun proyek yang mulai dikerjakan pada akhir 2010 lalu itu, masih harus dilengkapi dengan fasilitas pendukung, salah satunya jembatan penyeberangan orang (JPO).

“Dari laporan yang saya terima semua sudah sesuai rencana, dan semua sudah diuji coba, Senin akan dibuka untuk dioperasionalisasikan. Tapi terakhir kita masih perlu waktu untuk memasang tanda-tanda lalulintas dan menyosialisasikan tanda-tanda tersebut khususnya untuk penyeberang jalan karena pembangunan jembatan penyeberangan akan menyusul nanti,” ujar Fauzi Bowo, Gubernur DKI Jakarta saat mengunjungi underpass Trunojoyo, Kebayoranbaru, Jakarta Selatan, Rabu (7/3).

Menurut Fauzi, JPO belum dibuat karena anggaran untuk pembangunannya baru akan diprogramkan pada tahun mendatang. “Nanti akan ada jembatan penyeberangan yang menghubungkan antara sisi barat dengan sisi timur sekaligus akses yang akan menghubungkan dua bangunan utama dari Mabes Polri. Underpass ini menjadi bagian upaya untuk mengurai kemacetan dengan memisah simpang sebidang menjadi simpang tidak sebidang, ada yang di bawah tanah dan ada juga yang di atas,” tambahnya.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum (PU) DKI Jakarta, Ery Basworo, mengatakan struktur underpass secara keseluruhan sudah bisa dilewati. Selain itu, saluran air untuk menampung genangan juga sudah disiapkan. “Terowongan sudah bisa dilewati maka jembatan di atasnya pun sudah bisa dilewati. Untuk menangani genangan air ketika hujan di sini telah disiapkan dua sampit atau tempat menampung air dengan daya tampung sekitar 1.000 liter,” jelasnya.

Sementara Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta, Udar Pristono, mengungkapkan keberadaan rambu-rambu masih butuh sosialisasi untuk para penyeberang jalan, karena saat underpass difungsikan yang paling riskan adalah penyeberang jalan. Sebab, pola penyeberang jalan belum terbentuk dengan baik.

“Gubernur minta zebra cross pada simpang tersebut harus diperkuat dengan petunjuk. Tujuannya, agar pengguna jalan berjalan menuju zebra cross di simpang tersebut,” tuturnya.

Pristono menambahkan, saat ini rambu yang sudah ada yaitu rambu batas ketinggian yang bertujuan supaya masyarakat tahu berapa batas ketinggian untuk dapat melintasi underpass. Selain itu, ada juga rambu batas kecepatan di underpass yang membentang dari Jl Patimura ke Jl Sultan Hasanudin sepanjang 314 meter, dengan tinggi maksimal 4,8 meter, dan lebar 2×8,75 meter tersebut.

Publish on Maret 7th, 2012 under Jakarta Terkini by redaksi | 1 Comment »
Selamat Datang Bos , tolong dikomentari berita ini dengan sopan


− 4 = lima

ad